Rabu, 05 Februari 2014

REL KERETA API (tak pernah bersatu tapi selalu berdampingan)



“Kenapa kau terus seperti itu?” ucap sang kumbang pada sang kupu-kupu saat dia melihat banyak serangga lain mendekati sang bunga kecil yang ada di taman itu.
Sang kupu-kupu menghela nafas.
 “Apa kau terus akan diam seperti ini dan terus tidak melakukan apapun?” lanjut sang kumbang.
Sang kupu-kupu hanya terdiam, membisu. “ya Rabb.. apa yang harus hamba lakukan? Hamba mencintainya, tapi hamba tak ingin menyakitinya. Bantu hamba ya Rabb!” do’a sang kupu-kupu.
“Hai sobat, kenapa kau hanya diam? Apa kau tidak mendengarkan ku? Atau kau malu mengungkapkan kalimat yang telah kau sulam dari pembendaharaan hatimu? Ayolah sob, WAKE UP.. WAKE UP..!!” ucap sang kumbang penuh semangat seraya menepuk-nepuk bahu sang kupu-kupu.
Sang kupu-kupu masih tetap terdiam, mengutuk dirinya yang tak berdaya memperjuangkan cintanya.
Sang kumbang menggelengkan kepalanya. Dia tak mengerti harus bagaimana lagi memberitahukan temannya. Karna dia tahu, sang bunga memiliki perasaan yang sama terhadap temannya. Sang kumbang menghela nafas, “Sob.. apa harus aku yang angkat bicara? Apa kau tak kasihan terhadapnya? Setiap hari dia terus menantimu hinggap padanya. Dia menitikan air mata saat kau hanya berlalu dihadapanya.”
Sang kupu-kupu memandang lurus ke angkasa, kemudian menghela nafas, “Aku tahu akan hal itu, apa yang kulakukan saat ini, Insyaallah baik untuknya. Aku tak ingin menyakitinya, yang aku inginkan hanyalah melindunginya. Sampai kapan pun aku akan terus melindunginya.”
“Bagaimana mungkin kau bisa melindunginya? Yang ada kau hanya menykitinya karna bisumu padanya. Dasar pengecut kau.” Sentaknya dengan nada tinggi seraya menjatuhkan tubuh sang kupu-kupu kemudian terbang meninggalkannya.
Sang kupu-kupu hanya menghela nafas. “apa yang harus aku lakukan ya Rabb?” bisiknya lirih.
Keesokan harinya, sang kupu-kupu bersama teman-temannya hinggap dari satu bunga ke bunga yang lain seperti biasanya. Dari kejauhan sang bunga menatapnya, berharap dia hinggap padanya. “apa sekarang dia akan hinggap padaku? Sampai kapankah aku harus menunggumu?” ucapnya lirih.
“Hei, kau kenapa teman? Mengapa kau murung seperti itu? Apa aku menyakiti hatimu?” tanya Sinta sang mawar putih yang melihat Lily sang matahari kecil menitikan setitik sungai di ujung matanya. Lily hanya terdiam. “Hm.. ya sudah lah kalau kau tak mau cerita padaku.” Ucapnya seraya menghela nafas. “eh Liy, kamu pasti senang, Ditya menuju kesini tuh.” lanjutnya.
Lily mengalihkan pandangannya, bola matanya mengikuti Ditya yang lagi-lagi hanya berlalu dihadapannya. “aku harus bicara padanya.” Bisiknya. “Ditya sang kupu-kupu.. bolehkah aku berbicara kepadamu?” teriaknya keras.
Ditya menghentikan lajunya sambil terus mengepakkan sayapnya. Kemudian mengalihkan pandangannya ke sumber suara yang tak asing lagi baginya. “apa saatnya aku bicara ya Rabb?” gumamnya seraya mengepakkan sayapnya ke arah Lily. “ada apa lily?” tanyanya sambil terus mengepakkan sayap di samping Lily.
“Apakah kau membenciku, Ditya?”
“Kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Aku bingung padamu. Kau tak seperti serangga lain pada umumnya yang selalu berlomba-lomba untuk hinggap padaku. Apakah kau tahu, aku tak suka bila ada serangga lain hinggap padaku. Tapi aku tak berdaya mengusir mereka. Setiap hari aku selalu menanti  seseorang untuk hinggap padaku. Tapi penantianku sia-sia, saat dia berada di dekatku pun, dia tak pernah mau hinggap padaku. Apa menurutmu dia membenciku? Apa menurutmu aku punya kesalahan besar terhadapnya?” Tanyanya.
Ditya tersenyum kemudian menghela nafas. “menurutku dia tdak membencimu dan kau pun tidak mempunyai kesalahan terhadapnya. Dia mencintaimu Liy. Kebisuannya padamu, itu hanya kebodahannya saja yang tahu harus dengan apa dia mengugkapkan getar di hatinya. Huruf-huruf yang telah dia renda, kata-kata yang telah dia rangkai, kalimat-kalimat yang telah dia sulam, seketika hilang saat dia dekat denganmu. Dia tak ingin menyakitimu. Dia hanya ingin menjagamu dan akan tetap mencintaimu dari kejauhan. Karna dia tak sanggup bila ada sungai air mata di pipimu saat dia hinggap padamu kemudian menguras energimu.” Jawabnya berkaca-kaca.
Lily meneteskan setitik sungai di pipinya. “Apakah benar yang kau ucapkan itu?”
Ditya menatap lekat mata Lily. “Ya.. aku memang mencintaimu Liy, biarlah aku simpan perasaan ini rapat-rapat. Biarlah perasaan ini seperti rel kereta api, yang tak pernah bersatu tapi selalu berdampingan. Aku kan selalu melindungimu Liy, meskipun sayapku harus patah. “Maukah kau menjadi temanku, liy?”
Lily hanya mengangguk penuh senyuman.

FRIENDSHIP IS THE POWER OF SUCCES



Aku ada tapi tiada. Aku tak tahu, mengapa semua teman di kelasku menyebutku seperti itu dan tak mempercayaiku?
Semua teman dekat ku pun, tak ada yang percaya terhadapku, kecuali Uui yang sesekali cerita terhadapku. Apakah aku menyakiti mereka? Apakah aku pernah mengumbar sifat-sifat mereka? Aku tak mengerti, mengapa mereka lebih percaya terhadap orang yang baru dekat dengan mereka? Sementara aku yang telah dua tahun lebih membangun 4 Menara ini, tak tahu apa-apa kejadian besar yang terjadi pada teman-temanku.
“Eh Ty, kabar Icha sama Aman gimana? Katanya lagi ada problem ya?” Tanya Uui padaku.
 Aku hanya menggelengkan kepala. “Emang mereka ada hubungan khusus?” Tanyaku balik.
“Ya.. mereka memang ada hubungan khusus, dan mereka emang lagi ada problem. Icha tiba-tiba saja mutusin Aman karna dia pikir dia engga sepenuhnya suka sama Aman. Karna dia sekarang sudah menemukan cowo lain. Emang kamu ga tau Ty? Gimana sih, ko masalah sahabatnya sendiri engga tahu? Sahabat macam apa kamu?” sindir Elisa yang tiba-tiba nimbrung diantara kami berdua.
Lagi-lagi aku hanya menggelengkan kepala kemudian pergi dari tempat itu. Aku memang sering mendengar berita itu. Karna aku juga memang dekat dengan Aman. Aman sering cerita terhadapku, tapi dia bilang hanya sebatas teman, engga lebih.
  Mengapa aku tak tahu semua itu? Sedangkan Elisa, selalu tahu tentang semua rahasia-rahasia mereka. Tentang Rani, aku baru tahu bila dia ada hubungan khusus dengan Iwan, sepupuku sendiri. Dan dia sekarang sedang ada masalah besar dengan keluarganya. Parahnya lagi, aku tahu semua itu dari Elisa. Apa yang salah terhadap diriku ya Rabb? 4 menara yang telah di bangun bersama perlahan demi perlahan mulai runtuh.
“Kamu kenapa Ty? Lagi ada masalah?” tanya Ka Adit sambil duduk 1 meter dari sisiku. “Kamu ada masalah dengan teman-temanmu? Kayaknya sekarang Elisa lebih dekat dengan mereka dari pada kamu?”
Setitik embun keluar dari ujung mataku. “Aku juga engga tahu kak, aku dekat tapi tak ada bersama mereka. Aku juga engga ngerti, Elisa selalu tahu apa yang terjadi sama diri mereka, sedangkan aku? Aku seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa dengan sahabatku sendiri. Apa salah aku ka? Aku cape kak, aku ingin keluar dari sini.” keluhku berkaca-kaca.
“Apa kamu telah bicara ke mereka?” tanyanya tenang.
Aku mengangguk. “Mereka hanya bilang “maafin kami, kami engga bermaksud seperti itu.” Apa yang harus aku lakukan ka?”
Kak Adit menghela nafas. “Tya adikku, ka Adit sudah pernah bilang kan ke Tya untuk merubah segi pertemanan Tya? Kamu boleh dekat dengan mereka tapi jangan terlalu berlebihan. Bersikaplah sewajarnya. Kamu ingat pesan almarhumah Ayu, sahabat SMP mu dulu?”
Aku tertunduk. Memori tentang Ayu pun sedikit demi sedikit terbuka kembali. Ayu adalah sahabat terbaikkku. Tapi sayang dia pergi kehadapan_Nya karna kecelakaan bis saat perpisahan SMP di Cibodas, Bogor dua setengah tahun silam.
“Ty..?” panggil ka Adit lembut.
Pikiranku pun seketika buyar dari lamunan tentang Ayu. “Iya ka, Tya harus bangkit. Tya engga boleh lemah seperti ini. Karna dukungan dari Ayu, Tya sekarang bisa ada di ibu kota ini. Tya harus semangat..!” ucapku kembali bersemangat.
“Gitu dong.. itu baru adik ka Adit.”
Aku hanya tersenyum tipis.
“Tya....?” panggil teman-temanku dari belakang tempat aku dan ka Adit duduk. Aku pun mengalihkan pandanganku. “Maafin kami semua ya Ty, maaf banget. Kami sudah menyia-nyiakan mu. Elisa yang membuat kami jauh dari kamu.” Ucap Icha.
“Dia ngehasut kamu Ty, dia bilang kamu pernah ngebunuh teman dekat kamu sendiri dan mengumbar smua rahasia yang ada di temanmu.” Lanjut Rani.
“Dan sekarang dia dikeluarin dari sekolah Ty, karna ketahuan ngerjain karya tulis ngejiplak punya orang, dan kepergok ngebobol uang Nita.” Sambung Uui engga mau kalah.
Aku tertegun. “maksud kalian? Memangnya apa motif dia ngehasut aku seperti itu?”
“Dia iri dengan kedekatan kita Ty, dia ingin meruntuhkan menara kita. Karna dia tau kami bertiga gampang terpengaruh, jadi ya.. kami sasarannya.” Jawab Icha tersedu  karna dia yang paling dekat dengan Elisa.
Aku tak ingin membahas hal ini lebih banyak, yang terpenting bukan aku dalang dari semua ini. Aku tersenyum lega. “iya ga papa, karna dalan hal seperti ini banyak sekali keraguan, prasangka, misscomunitation, orang ketiga atau apalah itu, yang terpenting kita jangan sampai runtuh oleh hal seperti ini. Jadikan ini sebagai pelajaran untuk kita kedepannya.”
“iya Ty, harus itu. Jangan sampe menara kita runtuh. Oia kami punya kejutan buat kamu.” Ucap Uui sambil memberikan amplop padaku.
Aku memgerutkan kening. “Apa ini Uui?” tantaku sambil membuka amplop itu. Aku terperanjat membaca isi amplop itu, “ini... ini....” lidahku kelu untuk berucap.
“Iya Ty, kita berempat dapet beasiswa itu. Kita kan terbang ke Australia Ty,!” ucap Rani berkaca-kaca. Kami pun berpelukan.

MIRACLE OF PRAY



“Makanya jangan STMJ, syukurin lu.” Ucap Ardi sambil tolak pinggang dengan mata yang hampir keluar dari tempat bersemayamnya.
“STMJ apaan Di?” tanya Dudun polos.
“Akh lu oneng banget sih otaknya, Sholat Terus Maksiat Jalan dodol.” Jawab Andri kesal. “Makanya, punya otak tuh di refresh dong tiap hari kayak laptop gua ni.” Lanjutnya.
Dudun mendengus. “Alah.. masih suka loading juga so-soan ngatain ane. Otak ente tuh yang harusnya dicuci.” Timbalnya.
Erick menundukan kepalanya. “apa yang harus ana lakukan? Maafkan aku yang Rabb, aku terlalu sering melupakanMu.”
“Terus lu mau nyari duit dari mana Brow? Emangnya lu bisa dapetin uang sebanyak itu sehari doang? 50 jt Brow, itu ga sedikit buat mahasiswa kayak kita.! Lagian ngedadak banget sih kabarnya.” Seru Ardi menggebu-gebu.
Erick menghela nafas. “Aku juga engga tau Di, bingung apa yang harus dilakuin. Aku dari kemarin udah nyari kesana kemari, tapi belum dapet. Aku hanya bisa berdo’a dan terus berdo’a, karna aku yakin, Allah ada disamping aku, Dia pasti engga akan ngediemin aku.”
Ardi ikutan menghela nafas. Dudun pun ikut-ikutan menghela nafas. Seakan merasakan beban yang sedang ditanggung Erick. “iya Rick, tapi gimana caranya lu dapetin duit itu?” Tanya Andri.
“Erick.. lu dipanggil Rektor tuh.” Panggil Asep, ketua BEM Tarbiyyah.
“Ada apaan lagi Rick?” tanya Dudun.
Erick hanya mengangkat kedua bahunya kemudian berlalu meninggalkan kedua temannya. “Ada apa lagi ini ya Rabb?” tanyanya dalam hati.
Sesampainya di kantor rektor, Erick disambut senyum kecut Andi dan Rahman. Dia mengerutkan kening, tak paham atas apa yang terjadi pada mereka. Erick membalas senyuman mereka 180 derajat lebih indah kemudian berlalu meninggalkan mereka. “Assalaamu’alaikum.. Ada apa pak, bapak memanggil saya?” tanyanya saat sampai di ruang rektor.
“Wa’alaikumsalam.. iya, duduklah Rick.” Jawab Prof. Abdirrahman berwibawa. Erick pun duduk di sebrang meja rektor. “Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepadamu ananda. Yang pertama saya terpaksa harus mengeluarkan kamu dari kampus ini.”
“Apa salah saya pak?” tanyanya sepontan.
“Universitas di Madinah sana memintamu untuk pindah kesana karna hasil lomba kemarin, kamu mendapat predikat peserta terbaik saat lomba debat bahasa arab di Madinah dua minggu lalu diantara tiga perwakilan yang lain. Saya bangga terhadapmu.” Ucap rektor sambil menepuk-nepuk bahu tangan Erick.
Senyuman pun terpancar di wajah Erick. “Apa benar pak? Bapak tidak bohong?” tanyanya berkaca-kaca. Rektor hanya mengangguk penuh bangga. “Allahuakbar..” takbirnya kemudian bangkit dan bersujud di samping tempat semula dia duduk. “Terima kasih Ya Rabb.. Kau maha berkuasa atas segala sesuatu.” Bisiknya lirih.
“Bangun lah ananda, ini untuk ananda seperti yang telah dijanjikan. 100 juta jadi milik ananda.” Ucapnya lembut penuh wibawa.
Erick pun berdiri perlahan dari sujudnya. Diberikannya pun secarik Cek senilai 100 juta kepada Erick. Dengan mata yang sembab dan tangan yang bergetar, dia terima cek itu dari tangan Rektor. “Terima kasih pak.” Ucapnya haru.
“Sama-sama, kamu memang pantas mendapatkannya. Jangan sia-siakan kesempatan ini.” Pesan Pak Abdirrahman.
Erick mengangguk. “permisi pak, Assalaamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Erick pun berlalu meninggalkan ruang rektor kemudian bergegas menuju kedua temannya serta menceritakan apa yang terjadi di ruang rektor barusan. “Aku dah dapat uangnya, sekarang adik aku bisa dioprasi.” Ucapnya dengan air mata yang terus mengalir.
“Selamet ye Brow, lu emang hebat.” Puji Ardi haru. “Ta udah, tunggu apa lagi, kita ke bank sekarang.”
“Ente mau ngapain lagi ngajak kite ke bank?” tanyanya lagi-lagi polos.
“Ya nukerin uang dodol.” Erick menjawab mengikuti gaya Andri. Meraka pun terawa terbahak.

Sabtu, 01 Februari 2014

- S a H a B a T , k A w A n , T e M a N , a T a U a P a P u N i T u -

Prajurit Unyu
Ahad, 07-Oktober-2012
Hahahaa selalu geli perut ini bila ingat hari itu, persiapan memang kurang, latihan, buat atribut, test vokal,, Huaaaaa... rasanya beban batu ada di pundak kami. Tapi kami tak menyerah, karna yang terpenting untuk kami, bisa menyampaikan apa yang telah diamanahkan pada kami..

Kerajaan Fir'aun ^_^

Nasyid  S . K . S

Cisszzz

Kita Gagah Kan??

Satu Menit?? part I

“Kamu lagi dimana sekarang?? Cii di belokan samanggen nih..” Tutur Eci sedikit kesal.. Aku hanya tersenyum geli melihatnya.. sudah setengah jam memang kami berdua berdiri menatapi jalan,, menunggu orang yang kami sendiri pun tak tahu rupanya seperti apa.. untung saja kami tidak dianggap penunggu tempat itu..hihi..


“iya..iya.. aku lagi nunggu pamanku dulu.. beliau juga mau ke Jakarta..” jawab seseorang di ujung telfon sana dengan lembut.. (Suaranya mengingatkan ku pada seseorang..) aku tak tahu siapa dia.. hanya sekedar tahu namanya Hanis..

Eci mendengus.. “ya udah.. cepetan ya.. Eci tunggu!!!”

“InsyaAllah..” tut.. tut.. tut.. telfon pun terputus..

“apa kita duluan aja ya kii?? Eci tau kok rutenya..” Tanya Eci padaku..

“kita tunggu aja dia ya.. aku ga berani meskipun kita berdua.. kita kan perempuan.. perdana pula ke sana..” jawabku sedikit cemas. “lagi pula udah setengah jalan ni..”

Eci hanya manggut2 tanda setuju.. “duh maaf ya,, jadi nunggu gini deh..”

“iya engga apa2.. santai aja kali..” jawabku tenang..

“Teh Azkiiiiiiiiiiiiiii.. ngapain di situ?? Jadi penunggu kuburan??” panggil seseorang dari sisi jalan sana sambil tertawa cekikikan..

Dengan sigap pandanganku langsung beralih ke sumber suara.. “hehehe… iya nih teh.. yang lama lagi cuti dulu.. jadinya aku yang gantiin..” jawabku geli.. “aku kesana dulu ya cii..” pintaku pada eci.. Eci hanya mengangguk,, aku pun menghampirinya.. dia teh mvit, tetangga depan rumah orangtua ku..

“mau kemana teh?? Jadi ke Jakarta??” tanyanya

Aku mengangguk..”iya ni.. ini juga lagi nunggu temen.. mau bareng kesananya.. mau ikut teh?? hehe” candaku..

“engga ah teh.. mau ke pasar aja saya mah.. hihihi.. emangnya mau ngambil jurusan apa teh??”

“jurusan Garut-Jakarta teh.. hihihi..”

“ah ada2 saja teteh mah.. kalo te2h ke Jakarta mah,, ga dateng atuh Ahad depan di nikahannya Rendy??”

“a Rendy ahad depan ya?? Saya kira ahad depannya lagi..duh..salah jadwal dung..  tapi insyaalloh diusahain dateng ko teh.. smoga aja engga ada prubahan jadwal testnya..biar bisa menjadi saksi antara mereka..”

“aamiin… harus atuh.. masa yang nyomblangin ga dateng..hehehe..” aku hanya tersenyum sambil menerawang ke masa lalu saat aku menjodohkan a Rendy dan teh usy..benar2 penuh perjuangan..huhh.. ”ya udah ya teh.. saya mau ke pasar dulu.. teteh hati2 di jalannya.. kalau bisa pulangnya bawa monas ya teh.. hehehe”

“siip… insyaalloh.. nanti sama bunderan HI.nya deh sekalian di pindah ke sini..haha”

“hahaha… yu ah.. Assalaamu’alaikum…”

“wa’alaikumsalaam wr.wb..hati2 teh..” teh mvit hanya tersenyum sambil mengangguk… aku masih di tempat memandangi langkahnya hingga hilang dibalik Keramaian sambil mengingat2 kisah a Rendy dan teh usy..cukup rumit tuk memasuki kata hati dan fikiran mereka,, karna hanya pertengkaran yang tampak setiap mereka ada di satu tempat yang sama.. tapi akhirnya… hmhmhm..Lucu jika mengingat itu..

“Azkiiiiiiiiiiii…. Ngapain bengong di situ.. udah kaya orang ga waras aja senyam senyum sendiri..” teriak eci cekikikan membuyarkan lamunanku..

Aku tersentak.. “Astaghfirulloh.. eciiiiiiiiiiii… kamu ngagetin aja..” ujarku sedikit kesal sambil membalikkan pandangan.. eci semakin terbahak..

“Hahahaha… lagian ga ada kerjaan banget senyam-senyum di pinggir jalan.. sini cepetan.. Hanisnya udah dateng nih..” serunya sambil masih cekikikan..

Badanku pun langsung berputar 500 drajat ke arahnya.. ku lihat seorang ikhwan tertawa kecil tiada henti dalam pandangan yg tertunduk.. aku pun beranjak ke arah mereka berdua..

“udah puas kii nyengir di pinggir jalannya??” ledek eci..aku hanya memajukan mulutku 1cm kedepan..

“hehe..bercanda kii… ni yang namanya Hanis.. kenalan atuh..”

Dengan ragu ikhwan itu menaikan pandangannya ke arahku.. aku pun melihat ke arahnya.. beberapa puluh detik berlalu.. dia tersenyum kepadaku.. dengan malu aku membalas senyumannya.. “Haniss..” ucapnya singkat..

“Azkii..” balasku tak mau kalah singkat.. “Senyumannya mengingatkan aku lagi pada seseorang..” batinku..

‘’SATUMENIT.COM’’

Analogi Mengapa kita Harus Membaca Al-Qur’an Padahal tidak Mengerti Artinya.

Kisah berikut ini, sudah tidak asing lagi tersebar diinternet dalam berbagai versi penuturan yang diceritakan berulang-ulang dalam beberapa blog dan ruang website diinternet.

Dikisahkan,ada Seorang muslim tua yang tinggal di sebuah perkebunan/area di sebelah timur Pegunungan bersama cucu laki-lakinya. Setiap pagi Sang kakek bangun pagi dan duduk dekat perapian membaca Al-qur’an. Sang cucu ingin menjadi seperti kakeknya dan memcoba menirunya seperti yang disaksikannya setiap hari.

Suatu hari ia bertanya pada kakeknya : ” Kakek, aku coba membaca Al-Qur’an sepertimu tapi aku tak bisa memahaminya, dan walaupun ada sedikit yang aku pahami segera aku lupa begitu aku selesai membaca dan menutupnya. Jadi apa gunanya membaca Al-quran jika tak memahami artinya ?

Sang kakek dengan tenang sambil meletakkan batu-batu perapian, memjawab pertanyaan sang cucu : “Cobalah ambil sebuah keranjang batu ini dan bawa ke sungai, dan bawakan aku kembali dengan sekeranjang air.”

Anak itu mengerjakan seperti yang diperintahkan kakeknya, tetapi semua air yang dibawa habis sebelum dia sampai di rumah. Kakeknya tertawa dan berkata, “Kamu harus berusaha lebih cepat lain kali “. Kakek itu meminta cucunya untuk kembali ke sungai bersama keranjangnya untuk mencoba lagi. Kali ini anak itu berlari lebih cepat, tapi lagi-lagi keranjangnya kosong sebelum sampai di rumah.

Dengan terengah-engah dia mengatakan kepada kakeknya, tidak mungkin membawa sekeranjang air dan dia pergi untuk mencari sebuah ember untuk menggati keranjangnya. Kakeknya mengatakan : “Aku tidak ingin seember air, aku ingin sekeranjang air.Kamu harus mencoba lagi lebih keras. ” dan dia pergi keluar untuk menyaksikan cucunya mencoba lagi. Pada saat itu, anak itu tahu bahwa hal ini tidak mungkin, tapi dia ingin menunjukkan kepada kakeknya bahwa meskipun dia berlari secepat mungkin, air tetap akan habis sebelum sampai di rumah. Anak itu kembali mengambil / mencelupkan keranjangnya ke sungai dan kemudian berusaha berlari secepat mungkin, tapi ketika sampai di depan kakeknya, keranjang itu kosong lagi.

Dengan terengah-engah, ia berkata : “Kakek, ini tidak ada gunanya. Sia-sia saja”.
Sang kakek menjawab : “Nak, mengapa kamu berpikir ini tak ada gunanya ?.

Coba lihat dan perhatikan baik-baik keranjang itu .” Anak itu memperhatikan keranjangnya dan baru ia menyadari bahwa keranjangnya nampak sangat berbeda. Keranjang itu telah berubah dari sebuah keranjang batu yang kotor, dan sekarang menjadi sebuah keranjang yang bersih, luar dan dalam.

” Cucuku, apa yang terhadi ketika kamu membaca Qur’an ? Boleh jadi kamu tidak mengerti ataupun tak memahami sama sekali, tapi ketika kamu membacanya, tanpa kamu menyadari kamu akan berubah, luar dan dalam. Itulah pekerjaan Allah dalam mengubah kehidupan kamu.

***

Itulah hakekat dari sebuah tuntunan kenapa kita perlu Mambaca,Memahami,Mentadaburi,Menghafalkan dan Mengamalkan al-Qur’an. Karna dengan ke lima M( mambaca,memahami,mentadaburi,menghafalkan dan mengamalkan al-Qur’an) ini,diharapkan dapat menjadi pedoman dan arah kehidupan kita dalam merubah hidup kita menuju kebahagiaan,kesuksesan dan kemuliaan dunia dan akhirat. Dengan membacanya saja Allah dapat merubah hidup kita,apalagi dengan Memahami,Menghayati dan Mentadaburi isinya serta menghafalkan dan Mengamalkan tuntunan yang ada di dalam Al-Qur’an dalam setiap link kehidupan kita.

***
Created by: Yuni Nurul Asyifa

Semoga Bermanfaat..