Rabu, 05 Februari 2014

REL KERETA API (tak pernah bersatu tapi selalu berdampingan)



“Kenapa kau terus seperti itu?” ucap sang kumbang pada sang kupu-kupu saat dia melihat banyak serangga lain mendekati sang bunga kecil yang ada di taman itu.
Sang kupu-kupu menghela nafas.
 “Apa kau terus akan diam seperti ini dan terus tidak melakukan apapun?” lanjut sang kumbang.
Sang kupu-kupu hanya terdiam, membisu. “ya Rabb.. apa yang harus hamba lakukan? Hamba mencintainya, tapi hamba tak ingin menyakitinya. Bantu hamba ya Rabb!” do’a sang kupu-kupu.
“Hai sobat, kenapa kau hanya diam? Apa kau tidak mendengarkan ku? Atau kau malu mengungkapkan kalimat yang telah kau sulam dari pembendaharaan hatimu? Ayolah sob, WAKE UP.. WAKE UP..!!” ucap sang kumbang penuh semangat seraya menepuk-nepuk bahu sang kupu-kupu.
Sang kupu-kupu masih tetap terdiam, mengutuk dirinya yang tak berdaya memperjuangkan cintanya.
Sang kumbang menggelengkan kepalanya. Dia tak mengerti harus bagaimana lagi memberitahukan temannya. Karna dia tahu, sang bunga memiliki perasaan yang sama terhadap temannya. Sang kumbang menghela nafas, “Sob.. apa harus aku yang angkat bicara? Apa kau tak kasihan terhadapnya? Setiap hari dia terus menantimu hinggap padanya. Dia menitikan air mata saat kau hanya berlalu dihadapanya.”
Sang kupu-kupu memandang lurus ke angkasa, kemudian menghela nafas, “Aku tahu akan hal itu, apa yang kulakukan saat ini, Insyaallah baik untuknya. Aku tak ingin menyakitinya, yang aku inginkan hanyalah melindunginya. Sampai kapan pun aku akan terus melindunginya.”
“Bagaimana mungkin kau bisa melindunginya? Yang ada kau hanya menykitinya karna bisumu padanya. Dasar pengecut kau.” Sentaknya dengan nada tinggi seraya menjatuhkan tubuh sang kupu-kupu kemudian terbang meninggalkannya.
Sang kupu-kupu hanya menghela nafas. “apa yang harus aku lakukan ya Rabb?” bisiknya lirih.
Keesokan harinya, sang kupu-kupu bersama teman-temannya hinggap dari satu bunga ke bunga yang lain seperti biasanya. Dari kejauhan sang bunga menatapnya, berharap dia hinggap padanya. “apa sekarang dia akan hinggap padaku? Sampai kapankah aku harus menunggumu?” ucapnya lirih.
“Hei, kau kenapa teman? Mengapa kau murung seperti itu? Apa aku menyakiti hatimu?” tanya Sinta sang mawar putih yang melihat Lily sang matahari kecil menitikan setitik sungai di ujung matanya. Lily hanya terdiam. “Hm.. ya sudah lah kalau kau tak mau cerita padaku.” Ucapnya seraya menghela nafas. “eh Liy, kamu pasti senang, Ditya menuju kesini tuh.” lanjutnya.
Lily mengalihkan pandangannya, bola matanya mengikuti Ditya yang lagi-lagi hanya berlalu dihadapannya. “aku harus bicara padanya.” Bisiknya. “Ditya sang kupu-kupu.. bolehkah aku berbicara kepadamu?” teriaknya keras.
Ditya menghentikan lajunya sambil terus mengepakkan sayapnya. Kemudian mengalihkan pandangannya ke sumber suara yang tak asing lagi baginya. “apa saatnya aku bicara ya Rabb?” gumamnya seraya mengepakkan sayapnya ke arah Lily. “ada apa lily?” tanyanya sambil terus mengepakkan sayap di samping Lily.
“Apakah kau membenciku, Ditya?”
“Kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Aku bingung padamu. Kau tak seperti serangga lain pada umumnya yang selalu berlomba-lomba untuk hinggap padaku. Apakah kau tahu, aku tak suka bila ada serangga lain hinggap padaku. Tapi aku tak berdaya mengusir mereka. Setiap hari aku selalu menanti  seseorang untuk hinggap padaku. Tapi penantianku sia-sia, saat dia berada di dekatku pun, dia tak pernah mau hinggap padaku. Apa menurutmu dia membenciku? Apa menurutmu aku punya kesalahan besar terhadapnya?” Tanyanya.
Ditya tersenyum kemudian menghela nafas. “menurutku dia tdak membencimu dan kau pun tidak mempunyai kesalahan terhadapnya. Dia mencintaimu Liy. Kebisuannya padamu, itu hanya kebodahannya saja yang tahu harus dengan apa dia mengugkapkan getar di hatinya. Huruf-huruf yang telah dia renda, kata-kata yang telah dia rangkai, kalimat-kalimat yang telah dia sulam, seketika hilang saat dia dekat denganmu. Dia tak ingin menyakitimu. Dia hanya ingin menjagamu dan akan tetap mencintaimu dari kejauhan. Karna dia tak sanggup bila ada sungai air mata di pipimu saat dia hinggap padamu kemudian menguras energimu.” Jawabnya berkaca-kaca.
Lily meneteskan setitik sungai di pipinya. “Apakah benar yang kau ucapkan itu?”
Ditya menatap lekat mata Lily. “Ya.. aku memang mencintaimu Liy, biarlah aku simpan perasaan ini rapat-rapat. Biarlah perasaan ini seperti rel kereta api, yang tak pernah bersatu tapi selalu berdampingan. Aku kan selalu melindungimu Liy, meskipun sayapku harus patah. “Maukah kau menjadi temanku, liy?”
Lily hanya mengangguk penuh senyuman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar