“Kenapa
kau terus seperti itu?” ucap sang kumbang pada sang kupu-kupu saat dia melihat
banyak serangga lain mendekati sang bunga kecil yang ada di taman itu.
Sang
kupu-kupu menghela nafas.
“Apa kau terus akan diam seperti ini dan terus
tidak melakukan apapun?” lanjut sang kumbang.
Sang
kupu-kupu hanya terdiam, membisu. “ya Rabb.. apa yang harus hamba lakukan?
Hamba mencintainya, tapi hamba tak ingin menyakitinya. Bantu hamba ya Rabb!”
do’a sang kupu-kupu.
“Hai
sobat, kenapa kau hanya diam? Apa kau tidak mendengarkan ku? Atau kau malu
mengungkapkan kalimat yang telah kau sulam dari pembendaharaan hatimu? Ayolah
sob, WAKE UP.. WAKE UP..!!” ucap sang kumbang penuh semangat seraya
menepuk-nepuk bahu sang kupu-kupu.
Sang
kupu-kupu masih tetap terdiam, mengutuk dirinya yang tak berdaya memperjuangkan
cintanya.
Sang
kumbang menggelengkan kepalanya. Dia tak mengerti harus bagaimana lagi
memberitahukan temannya. Karna dia tahu, sang bunga memiliki perasaan yang sama
terhadap temannya. Sang kumbang menghela nafas, “Sob.. apa harus aku yang
angkat bicara? Apa kau tak kasihan terhadapnya? Setiap hari dia terus menantimu
hinggap padanya. Dia menitikan air mata saat kau hanya berlalu dihadapanya.”
Sang
kupu-kupu memandang lurus ke angkasa, kemudian menghela nafas, “Aku tahu akan
hal itu, apa yang kulakukan saat ini, Insyaallah baik untuknya. Aku tak ingin
menyakitinya, yang aku inginkan hanyalah melindunginya. Sampai kapan pun aku akan terus
melindunginya.”
“Bagaimana
mungkin kau bisa melindunginya? Yang ada kau hanya menykitinya karna bisumu
padanya. Dasar pengecut kau.” Sentaknya dengan nada tinggi seraya menjatuhkan
tubuh sang kupu-kupu kemudian terbang meninggalkannya.
Sang
kupu-kupu hanya menghela nafas. “apa yang harus aku lakukan ya Rabb?” bisiknya
lirih.
Keesokan
harinya, sang kupu-kupu bersama teman-temannya hinggap dari satu bunga ke bunga
yang lain seperti biasanya. Dari kejauhan sang bunga menatapnya, berharap dia
hinggap padanya. “apa sekarang dia akan hinggap padaku? Sampai kapankah aku
harus menunggumu?” ucapnya lirih.
“Hei,
kau kenapa teman? Mengapa kau murung seperti itu? Apa aku menyakiti hatimu?”
tanya Sinta sang mawar putih yang melihat Lily sang matahari kecil menitikan
setitik sungai di ujung matanya. Lily hanya terdiam. “Hm.. ya sudah lah kalau
kau tak mau cerita padaku.” Ucapnya seraya menghela nafas. “eh Liy, kamu pasti
senang, Ditya menuju kesini tuh.” lanjutnya.
Lily
mengalihkan pandangannya, bola matanya mengikuti Ditya yang lagi-lagi hanya
berlalu dihadapannya. “aku harus bicara padanya.” Bisiknya. “Ditya sang
kupu-kupu.. bolehkah aku berbicara kepadamu?” teriaknya keras.
Ditya
menghentikan lajunya sambil terus mengepakkan sayapnya. Kemudian mengalihkan
pandangannya ke sumber suara yang tak asing lagi baginya. “apa saatnya aku
bicara ya Rabb?” gumamnya seraya mengepakkan sayapnya ke arah Lily. “ada apa
lily?” tanyanya sambil terus mengepakkan sayap di samping Lily.
“Apakah
kau membenciku, Ditya?”
“Kenapa
kau bertanya seperti itu?”
“Aku
bingung padamu. Kau tak seperti serangga lain pada umumnya yang selalu
berlomba-lomba untuk hinggap padaku. Apakah kau tahu, aku tak suka bila ada
serangga lain hinggap padaku. Tapi aku tak berdaya mengusir mereka. Setiap hari
aku selalu menanti seseorang untuk
hinggap padaku. Tapi penantianku sia-sia, saat dia berada di dekatku pun, dia
tak pernah mau hinggap padaku. Apa menurutmu dia membenciku? Apa menurutmu aku
punya kesalahan besar terhadapnya?” Tanyanya.
Ditya
tersenyum kemudian menghela nafas. “menurutku dia tdak membencimu dan kau pun
tidak mempunyai kesalahan terhadapnya. Dia mencintaimu Liy. Kebisuannya padamu,
itu hanya kebodahannya saja yang tahu harus dengan apa dia mengugkapkan getar
di hatinya. Huruf-huruf yang telah dia renda, kata-kata yang telah dia rangkai,
kalimat-kalimat yang telah dia sulam, seketika hilang saat dia dekat denganmu.
Dia tak ingin menyakitimu. Dia hanya ingin menjagamu dan akan tetap mencintaimu
dari kejauhan. Karna dia tak sanggup bila ada sungai air mata di pipimu saat
dia hinggap padamu kemudian menguras energimu.” Jawabnya berkaca-kaca.
Lily
meneteskan setitik sungai di pipinya. “Apakah benar yang kau ucapkan itu?”
Ditya
menatap lekat mata Lily. “Ya.. aku memang mencintaimu Liy, biarlah aku simpan
perasaan ini rapat-rapat. Biarlah perasaan ini seperti rel kereta api, yang tak
pernah bersatu tapi selalu berdampingan. Aku kan selalu melindungimu Liy,
meskipun sayapku harus patah. “Maukah kau menjadi temanku, liy?”
Lily
hanya mengangguk penuh senyuman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar