Rabu, 05 Februari 2014

MIRACLE OF PRAY



“Makanya jangan STMJ, syukurin lu.” Ucap Ardi sambil tolak pinggang dengan mata yang hampir keluar dari tempat bersemayamnya.
“STMJ apaan Di?” tanya Dudun polos.
“Akh lu oneng banget sih otaknya, Sholat Terus Maksiat Jalan dodol.” Jawab Andri kesal. “Makanya, punya otak tuh di refresh dong tiap hari kayak laptop gua ni.” Lanjutnya.
Dudun mendengus. “Alah.. masih suka loading juga so-soan ngatain ane. Otak ente tuh yang harusnya dicuci.” Timbalnya.
Erick menundukan kepalanya. “apa yang harus ana lakukan? Maafkan aku yang Rabb, aku terlalu sering melupakanMu.”
“Terus lu mau nyari duit dari mana Brow? Emangnya lu bisa dapetin uang sebanyak itu sehari doang? 50 jt Brow, itu ga sedikit buat mahasiswa kayak kita.! Lagian ngedadak banget sih kabarnya.” Seru Ardi menggebu-gebu.
Erick menghela nafas. “Aku juga engga tau Di, bingung apa yang harus dilakuin. Aku dari kemarin udah nyari kesana kemari, tapi belum dapet. Aku hanya bisa berdo’a dan terus berdo’a, karna aku yakin, Allah ada disamping aku, Dia pasti engga akan ngediemin aku.”
Ardi ikutan menghela nafas. Dudun pun ikut-ikutan menghela nafas. Seakan merasakan beban yang sedang ditanggung Erick. “iya Rick, tapi gimana caranya lu dapetin duit itu?” Tanya Andri.
“Erick.. lu dipanggil Rektor tuh.” Panggil Asep, ketua BEM Tarbiyyah.
“Ada apaan lagi Rick?” tanya Dudun.
Erick hanya mengangkat kedua bahunya kemudian berlalu meninggalkan kedua temannya. “Ada apa lagi ini ya Rabb?” tanyanya dalam hati.
Sesampainya di kantor rektor, Erick disambut senyum kecut Andi dan Rahman. Dia mengerutkan kening, tak paham atas apa yang terjadi pada mereka. Erick membalas senyuman mereka 180 derajat lebih indah kemudian berlalu meninggalkan mereka. “Assalaamu’alaikum.. Ada apa pak, bapak memanggil saya?” tanyanya saat sampai di ruang rektor.
“Wa’alaikumsalam.. iya, duduklah Rick.” Jawab Prof. Abdirrahman berwibawa. Erick pun duduk di sebrang meja rektor. “Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepadamu ananda. Yang pertama saya terpaksa harus mengeluarkan kamu dari kampus ini.”
“Apa salah saya pak?” tanyanya sepontan.
“Universitas di Madinah sana memintamu untuk pindah kesana karna hasil lomba kemarin, kamu mendapat predikat peserta terbaik saat lomba debat bahasa arab di Madinah dua minggu lalu diantara tiga perwakilan yang lain. Saya bangga terhadapmu.” Ucap rektor sambil menepuk-nepuk bahu tangan Erick.
Senyuman pun terpancar di wajah Erick. “Apa benar pak? Bapak tidak bohong?” tanyanya berkaca-kaca. Rektor hanya mengangguk penuh bangga. “Allahuakbar..” takbirnya kemudian bangkit dan bersujud di samping tempat semula dia duduk. “Terima kasih Ya Rabb.. Kau maha berkuasa atas segala sesuatu.” Bisiknya lirih.
“Bangun lah ananda, ini untuk ananda seperti yang telah dijanjikan. 100 juta jadi milik ananda.” Ucapnya lembut penuh wibawa.
Erick pun berdiri perlahan dari sujudnya. Diberikannya pun secarik Cek senilai 100 juta kepada Erick. Dengan mata yang sembab dan tangan yang bergetar, dia terima cek itu dari tangan Rektor. “Terima kasih pak.” Ucapnya haru.
“Sama-sama, kamu memang pantas mendapatkannya. Jangan sia-siakan kesempatan ini.” Pesan Pak Abdirrahman.
Erick mengangguk. “permisi pak, Assalaamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Erick pun berlalu meninggalkan ruang rektor kemudian bergegas menuju kedua temannya serta menceritakan apa yang terjadi di ruang rektor barusan. “Aku dah dapat uangnya, sekarang adik aku bisa dioprasi.” Ucapnya dengan air mata yang terus mengalir.
“Selamet ye Brow, lu emang hebat.” Puji Ardi haru. “Ta udah, tunggu apa lagi, kita ke bank sekarang.”
“Ente mau ngapain lagi ngajak kite ke bank?” tanyanya lagi-lagi polos.
“Ya nukerin uang dodol.” Erick menjawab mengikuti gaya Andri. Meraka pun terawa terbahak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar