“Makanya
jangan STMJ, syukurin lu.” Ucap Ardi sambil tolak pinggang dengan mata yang
hampir keluar dari tempat bersemayamnya.
“STMJ
apaan Di?” tanya Dudun polos.
“Akh
lu oneng banget sih otaknya, Sholat Terus Maksiat Jalan dodol.” Jawab Andri
kesal. “Makanya, punya otak tuh di refresh dong tiap hari kayak laptop gua ni.”
Lanjutnya.
Dudun
mendengus. “Alah.. masih suka loading juga so-soan ngatain ane. Otak ente tuh
yang harusnya dicuci.” Timbalnya.
Erick
menundukan kepalanya. “apa yang harus ana lakukan? Maafkan aku yang Rabb, aku
terlalu sering melupakanMu.”
“Terus
lu mau nyari duit dari mana Brow? Emangnya lu bisa dapetin uang sebanyak itu
sehari doang? 50 jt Brow, itu ga sedikit buat mahasiswa kayak kita.! Lagian
ngedadak banget sih kabarnya.” Seru Ardi menggebu-gebu.
Erick
menghela nafas. “Aku juga engga tau Di, bingung apa yang harus dilakuin. Aku
dari kemarin udah nyari kesana kemari, tapi belum dapet. Aku hanya bisa berdo’a
dan terus berdo’a, karna aku yakin, Allah ada disamping aku, Dia pasti engga
akan ngediemin aku.”
Ardi
ikutan menghela nafas. Dudun pun ikut-ikutan menghela nafas. Seakan merasakan
beban yang sedang ditanggung Erick. “iya Rick, tapi gimana caranya lu dapetin
duit itu?” Tanya Andri.
“Erick..
lu dipanggil Rektor tuh.” Panggil Asep, ketua BEM Tarbiyyah.
“Ada
apaan lagi Rick?” tanya Dudun.
Erick
hanya mengangkat kedua bahunya kemudian berlalu meninggalkan kedua temannya.
“Ada apa lagi ini ya Rabb?” tanyanya dalam hati.
Sesampainya
di kantor rektor, Erick disambut senyum kecut Andi dan Rahman. Dia mengerutkan
kening, tak paham atas apa yang terjadi pada mereka. Erick membalas senyuman
mereka 180 derajat lebih indah kemudian berlalu meninggalkan mereka.
“Assalaamu’alaikum.. Ada apa pak, bapak memanggil saya?” tanyanya saat sampai
di ruang rektor.
“Wa’alaikumsalam..
iya, duduklah Rick.” Jawab Prof. Abdirrahman berwibawa. Erick pun duduk di
sebrang meja rektor. “Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepadamu
ananda. Yang pertama saya terpaksa harus mengeluarkan kamu dari kampus ini.”
“Apa
salah saya pak?” tanyanya sepontan.
“Universitas
di Madinah sana memintamu untuk pindah kesana karna hasil lomba kemarin, kamu
mendapat predikat peserta terbaik saat lomba debat bahasa arab di Madinah dua
minggu lalu diantara tiga perwakilan yang lain. Saya bangga terhadapmu.” Ucap
rektor sambil menepuk-nepuk bahu tangan Erick.
Senyuman
pun terpancar di wajah Erick. “Apa benar pak? Bapak tidak bohong?” tanyanya
berkaca-kaca. Rektor hanya mengangguk penuh bangga. “Allahuakbar..” takbirnya
kemudian bangkit dan bersujud di samping tempat semula dia duduk. “Terima kasih
Ya Rabb.. Kau maha berkuasa atas segala sesuatu.” Bisiknya lirih.
“Bangun
lah ananda, ini untuk ananda seperti yang telah dijanjikan. 100 juta jadi milik
ananda.” Ucapnya lembut penuh wibawa.
Erick
pun berdiri perlahan dari sujudnya. Diberikannya pun secarik Cek senilai 100 juta
kepada Erick. Dengan mata yang sembab dan tangan yang bergetar, dia terima cek
itu dari tangan Rektor. “Terima kasih pak.” Ucapnya haru.
“Sama-sama,
kamu memang pantas mendapatkannya. Jangan sia-siakan kesempatan ini.” Pesan Pak
Abdirrahman.
Erick
mengangguk. “permisi pak, Assalaamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Erick
pun berlalu meninggalkan ruang rektor kemudian bergegas menuju kedua temannya
serta menceritakan apa yang terjadi di ruang rektor barusan. “Aku dah dapat
uangnya, sekarang adik aku bisa dioprasi.” Ucapnya dengan air mata yang terus
mengalir.
“Selamet
ye Brow, lu emang hebat.” Puji Ardi haru. “Ta udah, tunggu apa lagi, kita ke
bank sekarang.”
“Ente
mau ngapain lagi ngajak kite ke bank?” tanyanya lagi-lagi polos.
“Ya
nukerin uang dodol.” Erick menjawab mengikuti gaya Andri. Meraka pun terawa
terbahak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar