Rabu, 05 Februari 2014

FRIENDSHIP IS THE POWER OF SUCCES



Aku ada tapi tiada. Aku tak tahu, mengapa semua teman di kelasku menyebutku seperti itu dan tak mempercayaiku?
Semua teman dekat ku pun, tak ada yang percaya terhadapku, kecuali Uui yang sesekali cerita terhadapku. Apakah aku menyakiti mereka? Apakah aku pernah mengumbar sifat-sifat mereka? Aku tak mengerti, mengapa mereka lebih percaya terhadap orang yang baru dekat dengan mereka? Sementara aku yang telah dua tahun lebih membangun 4 Menara ini, tak tahu apa-apa kejadian besar yang terjadi pada teman-temanku.
“Eh Ty, kabar Icha sama Aman gimana? Katanya lagi ada problem ya?” Tanya Uui padaku.
 Aku hanya menggelengkan kepala. “Emang mereka ada hubungan khusus?” Tanyaku balik.
“Ya.. mereka memang ada hubungan khusus, dan mereka emang lagi ada problem. Icha tiba-tiba saja mutusin Aman karna dia pikir dia engga sepenuhnya suka sama Aman. Karna dia sekarang sudah menemukan cowo lain. Emang kamu ga tau Ty? Gimana sih, ko masalah sahabatnya sendiri engga tahu? Sahabat macam apa kamu?” sindir Elisa yang tiba-tiba nimbrung diantara kami berdua.
Lagi-lagi aku hanya menggelengkan kepala kemudian pergi dari tempat itu. Aku memang sering mendengar berita itu. Karna aku juga memang dekat dengan Aman. Aman sering cerita terhadapku, tapi dia bilang hanya sebatas teman, engga lebih.
  Mengapa aku tak tahu semua itu? Sedangkan Elisa, selalu tahu tentang semua rahasia-rahasia mereka. Tentang Rani, aku baru tahu bila dia ada hubungan khusus dengan Iwan, sepupuku sendiri. Dan dia sekarang sedang ada masalah besar dengan keluarganya. Parahnya lagi, aku tahu semua itu dari Elisa. Apa yang salah terhadap diriku ya Rabb? 4 menara yang telah di bangun bersama perlahan demi perlahan mulai runtuh.
“Kamu kenapa Ty? Lagi ada masalah?” tanya Ka Adit sambil duduk 1 meter dari sisiku. “Kamu ada masalah dengan teman-temanmu? Kayaknya sekarang Elisa lebih dekat dengan mereka dari pada kamu?”
Setitik embun keluar dari ujung mataku. “Aku juga engga tahu kak, aku dekat tapi tak ada bersama mereka. Aku juga engga ngerti, Elisa selalu tahu apa yang terjadi sama diri mereka, sedangkan aku? Aku seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa dengan sahabatku sendiri. Apa salah aku ka? Aku cape kak, aku ingin keluar dari sini.” keluhku berkaca-kaca.
“Apa kamu telah bicara ke mereka?” tanyanya tenang.
Aku mengangguk. “Mereka hanya bilang “maafin kami, kami engga bermaksud seperti itu.” Apa yang harus aku lakukan ka?”
Kak Adit menghela nafas. “Tya adikku, ka Adit sudah pernah bilang kan ke Tya untuk merubah segi pertemanan Tya? Kamu boleh dekat dengan mereka tapi jangan terlalu berlebihan. Bersikaplah sewajarnya. Kamu ingat pesan almarhumah Ayu, sahabat SMP mu dulu?”
Aku tertunduk. Memori tentang Ayu pun sedikit demi sedikit terbuka kembali. Ayu adalah sahabat terbaikkku. Tapi sayang dia pergi kehadapan_Nya karna kecelakaan bis saat perpisahan SMP di Cibodas, Bogor dua setengah tahun silam.
“Ty..?” panggil ka Adit lembut.
Pikiranku pun seketika buyar dari lamunan tentang Ayu. “Iya ka, Tya harus bangkit. Tya engga boleh lemah seperti ini. Karna dukungan dari Ayu, Tya sekarang bisa ada di ibu kota ini. Tya harus semangat..!” ucapku kembali bersemangat.
“Gitu dong.. itu baru adik ka Adit.”
Aku hanya tersenyum tipis.
“Tya....?” panggil teman-temanku dari belakang tempat aku dan ka Adit duduk. Aku pun mengalihkan pandanganku. “Maafin kami semua ya Ty, maaf banget. Kami sudah menyia-nyiakan mu. Elisa yang membuat kami jauh dari kamu.” Ucap Icha.
“Dia ngehasut kamu Ty, dia bilang kamu pernah ngebunuh teman dekat kamu sendiri dan mengumbar smua rahasia yang ada di temanmu.” Lanjut Rani.
“Dan sekarang dia dikeluarin dari sekolah Ty, karna ketahuan ngerjain karya tulis ngejiplak punya orang, dan kepergok ngebobol uang Nita.” Sambung Uui engga mau kalah.
Aku tertegun. “maksud kalian? Memangnya apa motif dia ngehasut aku seperti itu?”
“Dia iri dengan kedekatan kita Ty, dia ingin meruntuhkan menara kita. Karna dia tau kami bertiga gampang terpengaruh, jadi ya.. kami sasarannya.” Jawab Icha tersedu  karna dia yang paling dekat dengan Elisa.
Aku tak ingin membahas hal ini lebih banyak, yang terpenting bukan aku dalang dari semua ini. Aku tersenyum lega. “iya ga papa, karna dalan hal seperti ini banyak sekali keraguan, prasangka, misscomunitation, orang ketiga atau apalah itu, yang terpenting kita jangan sampai runtuh oleh hal seperti ini. Jadikan ini sebagai pelajaran untuk kita kedepannya.”
“iya Ty, harus itu. Jangan sampe menara kita runtuh. Oia kami punya kejutan buat kamu.” Ucap Uui sambil memberikan amplop padaku.
Aku memgerutkan kening. “Apa ini Uui?” tantaku sambil membuka amplop itu. Aku terperanjat membaca isi amplop itu, “ini... ini....” lidahku kelu untuk berucap.
“Iya Ty, kita berempat dapet beasiswa itu. Kita kan terbang ke Australia Ty,!” ucap Rani berkaca-kaca. Kami pun berpelukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar