Aku
ada tapi tiada. Aku tak tahu, mengapa semua teman di kelasku menyebutku seperti
itu dan tak mempercayaiku?
Semua
teman dekat ku pun, tak ada yang percaya terhadapku, kecuali Uui yang sesekali
cerita terhadapku. Apakah aku menyakiti mereka? Apakah aku pernah mengumbar
sifat-sifat mereka? Aku tak mengerti, mengapa mereka lebih percaya terhadap
orang yang baru dekat dengan mereka? Sementara aku yang telah dua tahun lebih
membangun 4 Menara ini, tak tahu apa-apa kejadian besar yang terjadi pada
teman-temanku.
“Eh
Ty, kabar Icha sama Aman gimana? Katanya lagi ada problem ya?” Tanya Uui
padaku.
Aku hanya menggelengkan kepala. “Emang mereka
ada hubungan khusus?” Tanyaku balik.
“Ya..
mereka memang ada hubungan khusus, dan mereka emang lagi ada problem. Icha
tiba-tiba saja mutusin Aman karna dia pikir dia engga sepenuhnya suka sama Aman.
Karna dia sekarang sudah menemukan cowo lain. Emang kamu ga tau Ty? Gimana sih,
ko masalah sahabatnya sendiri engga tahu? Sahabat macam apa kamu?” sindir Elisa
yang tiba-tiba nimbrung diantara kami berdua.
Lagi-lagi
aku hanya menggelengkan kepala kemudian pergi dari tempat itu. Aku memang
sering mendengar berita itu. Karna aku juga memang dekat dengan Aman. Aman
sering cerita terhadapku, tapi dia bilang hanya sebatas teman, engga lebih.
Mengapa
aku tak tahu semua itu? Sedangkan Elisa, selalu tahu tentang semua
rahasia-rahasia mereka. Tentang Rani, aku baru tahu bila dia ada hubungan
khusus dengan Iwan, sepupuku sendiri. Dan dia sekarang sedang ada masalah besar
dengan keluarganya. Parahnya lagi, aku tahu semua itu dari Elisa. Apa yang
salah terhadap diriku ya Rabb? 4 menara yang telah di bangun bersama perlahan
demi perlahan mulai runtuh.
“Kamu
kenapa Ty? Lagi ada masalah?” tanya Ka Adit sambil duduk 1 meter dari sisiku.
“Kamu ada masalah dengan teman-temanmu? Kayaknya sekarang Elisa lebih dekat
dengan mereka dari pada kamu?”
Setitik
embun keluar dari ujung mataku. “Aku juga engga tahu kak, aku dekat tapi tak
ada bersama mereka. Aku juga engga ngerti, Elisa selalu tahu apa yang terjadi
sama diri mereka, sedangkan aku? Aku seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa
dengan sahabatku sendiri. Apa salah aku ka? Aku cape kak, aku ingin keluar dari
sini.” keluhku berkaca-kaca.
“Apa
kamu telah bicara ke mereka?” tanyanya tenang.
Aku
mengangguk. “Mereka hanya bilang “maafin kami, kami engga bermaksud seperti
itu.” Apa yang harus aku lakukan ka?”
Kak
Adit menghela nafas. “Tya adikku, ka Adit sudah pernah bilang kan ke Tya untuk
merubah segi pertemanan Tya? Kamu boleh dekat dengan mereka tapi jangan terlalu
berlebihan. Bersikaplah sewajarnya. Kamu ingat pesan almarhumah Ayu, sahabat SMP mu dulu?”
Aku
tertunduk. Memori tentang Ayu pun sedikit demi sedikit terbuka kembali. Ayu
adalah sahabat terbaikkku. Tapi sayang dia pergi kehadapan_Nya karna kecelakaan bis
saat perpisahan SMP di Cibodas, Bogor dua setengah tahun silam.
“Ty..?”
panggil ka Adit lembut.
Pikiranku
pun seketika buyar dari lamunan tentang Ayu. “Iya ka, Tya harus bangkit. Tya
engga boleh lemah seperti ini. Karna dukungan dari Ayu, Tya sekarang bisa ada
di ibu kota ini. Tya harus semangat..!” ucapku kembali bersemangat.
“Gitu
dong.. itu baru adik ka Adit.”
Aku
hanya tersenyum tipis.
“Tya....?”
panggil teman-temanku dari belakang tempat aku dan ka Adit duduk. Aku pun
mengalihkan pandanganku. “Maafin kami semua ya Ty, maaf banget. Kami sudah
menyia-nyiakan mu. Elisa yang membuat kami jauh dari kamu.” Ucap Icha.
“Dia
ngehasut kamu Ty, dia bilang kamu pernah ngebunuh teman dekat kamu sendiri dan
mengumbar smua rahasia yang ada di temanmu.” Lanjut Rani.
“Dan
sekarang dia dikeluarin dari sekolah Ty, karna ketahuan ngerjain karya tulis
ngejiplak punya orang, dan kepergok ngebobol uang Nita.” Sambung Uui engga mau
kalah.
Aku
tertegun. “maksud kalian? Memangnya apa motif dia ngehasut aku seperti itu?”
“Dia
iri dengan kedekatan kita Ty, dia ingin meruntuhkan menara kita. Karna dia tau
kami bertiga gampang terpengaruh, jadi ya.. kami sasarannya.” Jawab Icha
tersedu karna dia yang paling dekat
dengan Elisa.
Aku
tak ingin membahas hal ini lebih banyak, yang terpenting bukan aku dalang dari
semua ini. Aku tersenyum lega. “iya ga papa, karna dalan hal seperti ini banyak
sekali keraguan, prasangka, misscomunitation, orang ketiga atau apalah itu,
yang terpenting kita jangan sampai runtuh oleh hal seperti ini. Jadikan ini
sebagai pelajaran untuk kita kedepannya.”
“iya
Ty, harus itu. Jangan sampe menara kita runtuh. Oia kami punya kejutan buat
kamu.” Ucap Uui sambil memberikan amplop padaku.
Aku
memgerutkan kening. “Apa ini Uui?” tantaku sambil membuka amplop itu. Aku
terperanjat membaca isi amplop itu, “ini... ini....” lidahku kelu untuk
berucap.
“Iya
Ty, kita berempat dapet beasiswa itu. Kita kan terbang ke Australia Ty,!” ucap
Rani berkaca-kaca. Kami pun berpelukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar